Celemek Bayi Tahan Air

Usia 0-6 bulan bayi harus diberi ASI saja. Usia 7 bulan si kecil harus menambah asupannya dengan makanan pendamping. Tentu saja si kecil pun belajar untuk mengunyah makanan yang struktur nya berbeda dengan cairan (ASI). Dapat dibayangkan, pakaian si kecil pasti penuh dengan makanan yang tertumpah dari proses belajar makan tersebut. Untuk itu, si kecil perlu alat bantu celemek agar tetap menjaga bajunya tetap kering dan nyaman. Kebanyakan celemek yang dijual dipasaran terbuat dari kain. Itu berarti makanan yang tersisa di baju ketika sedang makan tetap akan basah. Sewaktu jalan-jalan saya menemukan celemek dari bahan plastik lembut yang dapat membantu ibu menjaga baju si kecil tetap nyaman dan kering ketika makan. Gambarnya pun menarik. Harganya terjangkau hanya Rp 35.000 (belum ongkos kirim). Jika ada yang berminat bisa pesan ke saya, hubungi 081804739769. Semoga membantu

Image

Boneka Jari Binatang

Bercerita merupakan kebutuhan setiap anak. Anak suka mendengarkan cerita bahkan suka juga bercerita misalnya dalam kegiatan bermain peran. Media yang dapat digunakan untuk bercerita bermacam-macam, misalnya boneka jari, mainan miniatur, dll.
Image   Image

Untuk itu pendidik harus kreatif menciptakan berbagai media dari barang bekas sebagai media untuk bercerita selain itu juga dapat membeli benda-benda tersebut dipasaran. Namun kendalanya, sulit untuk mencari boneka jari yang sesuai dengan jari anak dan tampil dalam bentuk yang menarik serta warna yang cerah. Kami menyediakan boneka jari binatang dengan harga Rp.95.900 per pack. Setiap pack nya berisi 10 boneka jari dengan bentuk binatang yang berbeda. Selain itu, boneka jari ini juga dapat dicuci dan terbuat dari bahan yang kuat. Jika berminat bisa pesan ke saya, hubungi 081804739769. Nanti akan ditambahkan ongkos kirim sesuai dengan tarif ekspedisi yang sudah ditetapkan.

 

Buku Referensi Anak Usia Dini

Buku referensi tentang anak usia dini, jika ada yang berminat silakan hubungi 081804739769. Kami akan kirimkan daftar buku beserta harganya. Salam
Pusing cari buku PAUD

CASEY SEKOLAH

Akhirnya Casey dapat sekolah yang menurut bunda dan ayah cocok untuk perkembangan Casey. Reaksi pertama waktu antar Casey ke “sekolah”, Casey senang, bisa liat pak Tani, main di sawah, bermain bersama teman, guru yang hangat dan ramah. Bu guru tak pernah melarang anak untuk berekspresi. Respon yang sama juga bunda rasakan. Waw..keren, anaknya aktif dan energik, banyak bermain, tidak banyak intervensi, guru ramah dan selalu tersenyum, dan yang paling menarik adalah ada anak yang membawa buku Thomas and his friends dan memberikan kepada guru. Buku tersebut kemudian minta dibacakan oleh guru. Beberapa teman termasuk anak saya juga ikut mendengarkan. Ada anak yang duduk di meja karena ingin melihat buku tersebut. Guru tidak melarang ekspresi anak tersebut dan justru malah menghargai reaksi anak yang punya rasa ingin tahu dengan berbagai cara. Bunda setuju jika Casey bermain disana, nuansa anak dan berpusat pada anak. Materi untuk anak tidak terlalu banyak, semua bermain dan muncul dari anak. Ketika ayah juga melihat sekolah tersebut ayah langsung bilang “udah Bunda, Casey disini aja, banyak bermain, pola pikir guru juga terbuka, banyak menggunakan motorik, dan tidak terlalu banyak aturan/intervensi”. Yah..syukurlah..akhirnya Casey dapat sekolah yang menurut kami sebagai orang tua paling baik untuk memfasilitasi perkembangan alami Casey. Kami berharap Casey bisa menjadi anak yang berkembang sesuai dengan keunikannya bukan karena harapan guru ini dan itu. Yang membuat ayah terkesan adalah waktu itu Casey jam makan bersama. Guru bertanya pada ayah, “casey kalo makan pake tangan apa pak?”. Ayah lalu menjawab “pake dua-duanya, tangan kanan dan kiri”. Bu guru lalu bilang “oiya ya..bisa dua-duanya”. Bu guru hanya tersenyum melihat Casey makan. Itulah keterbukaan atas perbedaan yang sangat kami sukai dari sekolah itu. Semoga Casey menemukan tempat yang tepat untuk mengembangkan diri. AminImage

Label Pada Anak

IMG_4084
Casey sudah ingin sekolah. Beberapa waktu lalu kami ajak Casey ke sebuah sekolah yang sepertinya cukup bisa menampung anak dengan berbagai keunikan dan potensi. Doa kami mudah-mudahan Casey bisa bermain puas dan belajar dari kegiatan bermainnya. Namun entah mengapa sekolah tersebut kemudian menghubungi saya sebagai orang tua dan meminta jika suatu saat Casey nanti diterima dan butuh shadow teacher apakah saya bersedia dan mau? Awalnya saya kaget dengan pernyataan tersebut. Kenapa dengan anak saya? Setahu saya yang butuh shadow teacher itu anak yang berkebutuhan khusus. MUngkin saja anakku berkebutuhan khusus (maap casey, bunda tidak bermaksud melabelmu dengan kata-kata itu). Lalu panjang lebar telah saya sampaikan ke guru tersebut perihal penyebab perilaku casey, baik dari perhatian, kasih sayang, pola disiplin, dll. Entah mengapa dan analisis bagaimana yang dilakukan di calon guru ini sehingga terlontar statement demikian. Saya dengan rendah hati bilang “jika memang itu demi kebaikan anak saya, kenapa tidak? tapi mohon dikomunikasikan lebih dulu, mengapa casey perlu shadow teacher, alasannya mengapa? Dari statement awal dikatakan karena riwayat pralahir, kelahiran dan paska lahir dik casey.
Sepulang dari sekolah tersebut saya terus berpikir dan mencari berbagai referensi terkait dengan anak GPPH, dll. Anakku memang aktif, itu sudah turunan dari ayahnya yang dominan motorik dan ibunya yang lincah. Kata mami saya dulu memang tidak bisa diam. Lalu sama halnya dengan suami saya, ayah casey, juga tidak bisa diam. Bukankah anak usia 2,5 tahun memang memiliki karakteristik demikian? lalu saya baca pula perkembangan anak. Mengapa akhir2 ini casey sulit untuk diarahkan? Ternyata memang pada usia tersebut casey memasuki masa egosentris. Itu sebabnya semua ingin dikerjakan sendiri, tidak mau dibantu, terlihat tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, dan suka membangkang. Itu wajar karena memang itu tugas perkembangan yang harus dilaluinya. Buku lain pun saya temukan judulnya perkembangan sosial emosional anak. Ada satu judul menarik yang saya baca yaitu “si 2 tahun yang menyebalkan”. Oh..tidak!! Itu memang judul yang tepat, namun bukan aku yang mengatakannya. Setelah saya baca, memang itulah yang terjadi pada casey. Bentuk perilaku menangis jika keinginannya tidak dipenuhi, marah, maunya sendiri, dll, adalah bentuk perilaku mereka yang mencerminkan rasa frustasi. Untuk menghadapi ini hanya perlu kesabaran dari pendidiknya, hanya itu. Dalam buku itu pula sampaikan, pada dasarnya anak tidak bermaksud untuk menyakiti orang tua dengan sikapnya, namun rasa frustasi yang dalam membuat anak bersikap demikian. Apakah kondisi itu memang perlu shadow teacher? Saya rasa guru saja cukup. Bukankah memang sedang usianya demikian?
Label itu harusnya diberikan pada anak lain yang memang berkebutuhan khusus. Lagi pula bukankah penuduhan itu perlu waktu observasi selama 6 bulan? Mengapa dari awal, melakukan pengamatan saja belum tapi sudah membuat statement demikian? Tahukan mereka tahapan perkembangan anak usia dini? Apa yang kami alami tidak serta merta membuat kami marah. Ini instropeksi besar yang harus saya dan suami saya lakukan. Selama ini ketika kami menghadapi anak yang egosentris seringkali meningkatkan emosi dan cenderung untuk marah. Ternyata itu membentuk anak menjadi lebih keras. Kami pun sepakat untuk memperbaiki pola didikan di rumah dengan cenderung diam dan pasif (permisif) ketika anak menjadi sulit. Cara ini ternyata lebih efektif, anak dapat mengurangi perilakunya yang tidak menyenangkan agar orang lain juga mau bermain dengannya. Kami juga tidak berdosa memarahi anak dan membuat hati mereka terluka. Kesimpulannya. Saya kuatir jika memasukkan anak saya di sekolah tersebut. jangan-jangan nanti anak kami menjadi robot2 yang tidak menjadi dirinya sendiri, tidak memiliki waktu bermain yang banyak, harus duduk rapi, dan cenderung formal. Nuansa bermainnya sama sekali tidak nampak. Yang saya kuatirkan pula adalah jangan-jangan anak yang cendrung belajar dengan kinestetik dianggap anak yang abnormal. Padahal saya menganggap sekolah tersebut cukup baik dan terpercaya mengedepankan karakteristik kePAUDannya. Semoga casey dapat sekolah yang lebih baik.

Baju Sari India yahe..aca..aca

Aku punya banyak banget kain bahan baju. Pengen pesan model baju yang ga biasa. Cari-cari di internet eh dapet nih keren banget. Lihat..keren kan??

Image

Laho..eh haloo mahasiswa ibu..gimana kalo ibu pake baju gini ke kampus?? Keren ga?? hehehe

Mengapa menginjili anak-anak?

Alkitab mengajarkan bahwa anak-anak lebih terbuka terhadap injil dari pada orang dewasa. Ini merupakan salah satu topik dalam buku yang saya baca. Dalam markus 10:15, matius 18:3. Saya sadar bahwa anak saya pun harus mulai dikenalkan dengan Tuhan. Saya melakukannya karena mencontoh apa yang saya peroleh dari didikan orang tua saya. Pada waktu kecil, papi dan mami selalu melakukan mesbah keluarga sampai kami dewasa. Mungkin hal itulah yang membuat saya bertahan dan tetap percaya pada Kristus. Pembiasaan adalah kata yang tepat untuk mewakili pernyataan tersebut. Anak harus sejak dini dibiasakan untuk melihat orang tuanya memuji, menyembah Tuhan, membaca kitab suci dan berdoa karena dengan demikian anak tahu bahwa kegiatan itu merupakan hal yang penting. Anak pula harus dibiasakan untuk berkumpul bersama-sama dengan temannya yang seiman, diajak untuk mengikuti acara persekutuan, datang ke gereja. Memang hal ini menunjukkan bahwa agama merupakan sesuatu yang diturunkan. Namun itulah karakter baik yang perlu dilihat oleh anak. Dari melihat dan pembiasaan itulah, imannya bertumbuh.

Casey sudah tahu bahwa sebelum makan ia harus berdoa. Terkadang ketika ia lapar sekali dan melihat makanan yang menggiurkan, dengan spontan Casey duduk dan melipat tangannya sambil komat kamit (awalnya). Setelah ia menghafal doa makan, sekarang ia sudah mampu mengucapkannya “ecus, maem, eci, amin” (Tuhan Yesus terima kasih atas berkatmu, Casey mau maem, Berkatilah makanan ini. Amin). Bude Tri juga sering meminta Casey untuk berdoa sendiri. Itu merupakan pembiasaan awal yang saya ajarkan pada anak saya.

 

Namun hal itu tidaklah cukup. Pembiasaan yang lain juga saya lakukan ketika saya sadar bahwa casey perlu melihat orang tuanya berdoa, memuji Tuhan dan membaca firman Tuhan secara kontinu dan konsisten. Saya sengaja membeli buku lagu untuk dinyanyikan dengan gitar. “casey, ayo kita memuji Tuhan”. Awalnya kami bernyanyi lagu sekolah minggu kemudian “gantian lagu bunda ya”. Pembiasaan ini sudah sering saya lakukan dan Casey tidak pernah mengganggu, walaupun awalnya memegang senar gitar, memanggil nama saya terus menerus, bahkan berpura-pura menangis agar saya menghentikan pujian penyembahan tersebut. Saya lalu berkata ” Casey.. bunda memuji Tuhan dulu ya. Casey boleh ikut bernyanyi”. Hanya beberapa kali ditegur, casey sudah mengerti, ia tidak berniat untuk mengganggu, bahkan ketika saya menangis sambil berdoa, casey spontan mengatakan “sorry bunda” (ia mengira saya menangis karena tingkah laku casey sehingga ia minta maaf. Ia terbiasa untuk mengucapkan kata-kata itu  ketika saya menangis karena tingkah lakunya tidak menyenangkan). Saya langsung peluk ia dan mengatakan “bukan karena casey sayang, casey anak pintar. Bunda nangis karena Tuhan Yesus itu baik pada kita. Sekarang casey dengarkan firman Tuhan ya, bunda bacakan”. Memang ia tidak bertahan lama untuk mendengarkan, namun paling tidak ia terbiasa untuk melihat kebiasaan tersebut.

Satu hal yang menjadi kerinduan saya adalah untuk membina guru sekolah minggu di gereja kami. Saya sadar betul bahwa sejak kecil anak harus mengenal firman Tuhan, menyukai puji-pujian, senang bermain bersama teman seiman. Namun saya temui sekolah minggu kami sepertinya tidak memfasilitasi itu semua. Kadang ada firman Tuhan kadang tidak. Untuk lagu saja, gurunya bingung menyanyikan apa, karena tidak dipersiapkan. Padahal anak-anak sudah datang, dan mereka antusias untuk mempelajari firman Tuhan. Ini tidak bisa disalahkan, mungkin saja mereka tidak memiliki pemahaman akan pentingnya menginjili anak sejak dini. Ini adalah bentuk investasi dimasa mendatang. Mungkinkan banyak orang yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam kepercayaannya pada Tuhan karena sejak dini hal tersebut dianggap remeh? Mencari pasangan yang bukan dari kepercayaan yang sama. Mencoba hal baru yang hanya berisi hura-hura, tidak penting, seakan-akan tidak menghargai waktu, dan bahkan dirinya sendiri.

Terus terang ini menjadi ketakutan bagi saya. Saya kuatir anak saya akan melalui itu semua dengan tidak berhasil. Pilihan pasangan hidupnya, temannya, bagaimana ia bekerja, dan lain sebagainya. Waktu pulang jalan-jalan dari maliboro, kami mendengarkan teriakan beberapa orang dan diiikuti lampu disko dan musik jedag jedug. Jantung saya mulai berdetak kencang. Saya sedih mengapa banyak orang melampiaskan rasa jenuhnya pada hal-hal seperti itu. Saya bayangkan sekarang saja (2012) orang sudah sedemikian, apalagi nanti ketika 2045, anak saya tumbuh menjadi orang dewasa, bekerja, mau seperti apa huru hara dan hura huranya?

Itulah yang kemudian menyadarkan saya, bahwa tidak ada satupun yang dapat mengikat anak saya kecuali ia memiliki pemahaman yang benar tentang Allahnya. Dan itu semua tidak dapat tumbuh sendiri, perlu saya sebagai orang tua yang membimbing dan menjadi contoh bagaimana iman saya bertumbuh dan dapat pula bertumbuh pada anak saya. Saya berharap dapat memberikan investasi yang tidak dapat dibayar dengan apapun dimasa yang akan datangImage.