Label Pada Anak

IMG_4084
Casey sudah ingin sekolah. Beberapa waktu lalu kami ajak Casey ke sebuah sekolah yang sepertinya cukup bisa menampung anak dengan berbagai keunikan dan potensi. Doa kami mudah-mudahan Casey bisa bermain puas dan belajar dari kegiatan bermainnya. Namun entah mengapa sekolah tersebut kemudian menghubungi saya sebagai orang tua dan meminta jika suatu saat Casey nanti diterima dan butuh shadow teacher apakah saya bersedia dan mau? Awalnya saya kaget dengan pernyataan tersebut. Kenapa dengan anak saya? Setahu saya yang butuh shadow teacher itu anak yang berkebutuhan khusus. MUngkin saja anakku berkebutuhan khusus (maap casey, bunda tidak bermaksud melabelmu dengan kata-kata itu). Lalu panjang lebar telah saya sampaikan ke guru tersebut perihal penyebab perilaku casey, baik dari perhatian, kasih sayang, pola disiplin, dll. Entah mengapa dan analisis bagaimana yang dilakukan di calon guru ini sehingga terlontar statement demikian. Saya dengan rendah hati bilang “jika memang itu demi kebaikan anak saya, kenapa tidak? tapi mohon dikomunikasikan lebih dulu, mengapa casey perlu shadow teacher, alasannya mengapa? Dari statement awal dikatakan karena riwayat pralahir, kelahiran dan paska lahir dik casey.
Sepulang dari sekolah tersebut saya terus berpikir dan mencari berbagai referensi terkait dengan anak GPPH, dll. Anakku memang aktif, itu sudah turunan dari ayahnya yang dominan motorik dan ibunya yang lincah. Kata mami saya dulu memang tidak bisa diam. Lalu sama halnya dengan suami saya, ayah casey, juga tidak bisa diam. Bukankah anak usia 2,5 tahun memang memiliki karakteristik demikian? lalu saya baca pula perkembangan anak. Mengapa akhir2 ini casey sulit untuk diarahkan? Ternyata memang pada usia tersebut casey memasuki masa egosentris. Itu sebabnya semua ingin dikerjakan sendiri, tidak mau dibantu, terlihat tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, dan suka membangkang. Itu wajar karena memang itu tugas perkembangan yang harus dilaluinya. Buku lain pun saya temukan judulnya perkembangan sosial emosional anak. Ada satu judul menarik yang saya baca yaitu “si 2 tahun yang menyebalkan”. Oh..tidak!! Itu memang judul yang tepat, namun bukan aku yang mengatakannya. Setelah saya baca, memang itulah yang terjadi pada casey. Bentuk perilaku menangis jika keinginannya tidak dipenuhi, marah, maunya sendiri, dll, adalah bentuk perilaku mereka yang mencerminkan rasa frustasi. Untuk menghadapi ini hanya perlu kesabaran dari pendidiknya, hanya itu. Dalam buku itu pula sampaikan, pada dasarnya anak tidak bermaksud untuk menyakiti orang tua dengan sikapnya, namun rasa frustasi yang dalam membuat anak bersikap demikian. Apakah kondisi itu memang perlu shadow teacher? Saya rasa guru saja cukup. Bukankah memang sedang usianya demikian?
Label itu harusnya diberikan pada anak lain yang memang berkebutuhan khusus. Lagi pula bukankah penuduhan itu perlu waktu observasi selama 6 bulan? Mengapa dari awal, melakukan pengamatan saja belum tapi sudah membuat statement demikian? Tahukan mereka tahapan perkembangan anak usia dini? Apa yang kami alami tidak serta merta membuat kami marah. Ini instropeksi besar yang harus saya dan suami saya lakukan. Selama ini ketika kami menghadapi anak yang egosentris seringkali meningkatkan emosi dan cenderung untuk marah. Ternyata itu membentuk anak menjadi lebih keras. Kami pun sepakat untuk memperbaiki pola didikan di rumah dengan cenderung diam dan pasif (permisif) ketika anak menjadi sulit. Cara ini ternyata lebih efektif, anak dapat mengurangi perilakunya yang tidak menyenangkan agar orang lain juga mau bermain dengannya. Kami juga tidak berdosa memarahi anak dan membuat hati mereka terluka. Kesimpulannya. Saya kuatir jika memasukkan anak saya di sekolah tersebut. jangan-jangan nanti anak kami menjadi robot2 yang tidak menjadi dirinya sendiri, tidak memiliki waktu bermain yang banyak, harus duduk rapi, dan cenderung formal. Nuansa bermainnya sama sekali tidak nampak. Yang saya kuatirkan pula adalah jangan-jangan anak yang cendrung belajar dengan kinestetik dianggap anak yang abnormal. Padahal saya menganggap sekolah tersebut cukup baik dan terpercaya mengedepankan karakteristik kePAUDannya. Semoga casey dapat sekolah yang lebih baik.

2 responses to “Label Pada Anak

  1. coba share gmn sikap permisif bagi “anak cenderung membangkang” yg cukup ampuh……. krn si 4 tahun juga sedang berada pada fase itu…

    • marthachristianti

      Jika ibu sadar anak ibu memang sedang dalam fase tersebut maka belajarlah untuk melihat pembangkangan tersebut dari sudut pandang anak. Mengapa anak “kekeh” dengan pendapatnya? Usia 4 tahun kosa kata anak cukup banyak. Ketika sedang bersantai cobalah untuk mendiskusikan sikap anak tersebut dengan mendekapnya dan katakan pula keberatan-keberatan anda terhadap pendapat anak tersebut. Bisa jadi anak memutuskan sesuatu tanpa memperhatikan konsekuensi yang akan dihadapi, membahayakan atau tidak, baik atau tidak. Saya rasa anak-anak juga perlu diajak untuk diskusi membicarakan segala sesuatu agar nanti ia bisa tumbuh dewasa dan mampu mengambil keputusan yang bijaksana. Menjadi orang tua yang otoriter itu banyak sisi negatifnya ibu belajarlah untuk memberikan pilihan pada anak dan mengikutsertakan anak dalam mengambil keputusan dan diskusikanlah. Semoga berhasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s