Mengapa menginjili anak-anak?

Alkitab mengajarkan bahwa anak-anak lebih terbuka terhadap injil dari pada orang dewasa. Ini merupakan salah satu topik dalam buku yang saya baca. Dalam markus 10:15, matius 18:3. Saya sadar bahwa anak saya pun harus mulai dikenalkan dengan Tuhan. Saya melakukannya karena mencontoh apa yang saya peroleh dari didikan orang tua saya. Pada waktu kecil, papi dan mami selalu melakukan mesbah keluarga sampai kami dewasa. Mungkin hal itulah yang membuat saya bertahan dan tetap percaya pada Kristus. Pembiasaan adalah kata yang tepat untuk mewakili pernyataan tersebut. Anak harus sejak dini dibiasakan untuk melihat orang tuanya memuji, menyembah Tuhan, membaca kitab suci dan berdoa karena dengan demikian anak tahu bahwa kegiatan itu merupakan hal yang penting. Anak pula harus dibiasakan untuk berkumpul bersama-sama dengan temannya yang seiman, diajak untuk mengikuti acara persekutuan, datang ke gereja. Memang hal ini menunjukkan bahwa agama merupakan sesuatu yang diturunkan. Namun itulah karakter baik yang perlu dilihat oleh anak. Dari melihat dan pembiasaan itulah, imannya bertumbuh.

Casey sudah tahu bahwa sebelum makan ia harus berdoa. Terkadang ketika ia lapar sekali dan melihat makanan yang menggiurkan, dengan spontan Casey duduk dan melipat tangannya sambil komat kamit (awalnya). Setelah ia menghafal doa makan, sekarang ia sudah mampu mengucapkannya “ecus, maem, eci, amin” (Tuhan Yesus terima kasih atas berkatmu, Casey mau maem, Berkatilah makanan ini. Amin). Bude Tri juga sering meminta Casey untuk berdoa sendiri. Itu merupakan pembiasaan awal yang saya ajarkan pada anak saya.

 

Namun hal itu tidaklah cukup. Pembiasaan yang lain juga saya lakukan ketika saya sadar bahwa casey perlu melihat orang tuanya berdoa, memuji Tuhan dan membaca firman Tuhan secara kontinu dan konsisten. Saya sengaja membeli buku lagu untuk dinyanyikan dengan gitar. “casey, ayo kita memuji Tuhan”. Awalnya kami bernyanyi lagu sekolah minggu kemudian “gantian lagu bunda ya”. Pembiasaan ini sudah sering saya lakukan dan Casey tidak pernah mengganggu, walaupun awalnya memegang senar gitar, memanggil nama saya terus menerus, bahkan berpura-pura menangis agar saya menghentikan pujian penyembahan tersebut. Saya lalu berkata ” Casey.. bunda memuji Tuhan dulu ya. Casey boleh ikut bernyanyi”. Hanya beberapa kali ditegur, casey sudah mengerti, ia tidak berniat untuk mengganggu, bahkan ketika saya menangis sambil berdoa, casey spontan mengatakan “sorry bunda” (ia mengira saya menangis karena tingkah laku casey sehingga ia minta maaf. Ia terbiasa untuk mengucapkan kata-kata itu  ketika saya menangis karena tingkah lakunya tidak menyenangkan). Saya langsung peluk ia dan mengatakan “bukan karena casey sayang, casey anak pintar. Bunda nangis karena Tuhan Yesus itu baik pada kita. Sekarang casey dengarkan firman Tuhan ya, bunda bacakan”. Memang ia tidak bertahan lama untuk mendengarkan, namun paling tidak ia terbiasa untuk melihat kebiasaan tersebut.

Satu hal yang menjadi kerinduan saya adalah untuk membina guru sekolah minggu di gereja kami. Saya sadar betul bahwa sejak kecil anak harus mengenal firman Tuhan, menyukai puji-pujian, senang bermain bersama teman seiman. Namun saya temui sekolah minggu kami sepertinya tidak memfasilitasi itu semua. Kadang ada firman Tuhan kadang tidak. Untuk lagu saja, gurunya bingung menyanyikan apa, karena tidak dipersiapkan. Padahal anak-anak sudah datang, dan mereka antusias untuk mempelajari firman Tuhan. Ini tidak bisa disalahkan, mungkin saja mereka tidak memiliki pemahaman akan pentingnya menginjili anak sejak dini. Ini adalah bentuk investasi dimasa mendatang. Mungkinkan banyak orang yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam kepercayaannya pada Tuhan karena sejak dini hal tersebut dianggap remeh? Mencari pasangan yang bukan dari kepercayaan yang sama. Mencoba hal baru yang hanya berisi hura-hura, tidak penting, seakan-akan tidak menghargai waktu, dan bahkan dirinya sendiri.

Terus terang ini menjadi ketakutan bagi saya. Saya kuatir anak saya akan melalui itu semua dengan tidak berhasil. Pilihan pasangan hidupnya, temannya, bagaimana ia bekerja, dan lain sebagainya. Waktu pulang jalan-jalan dari maliboro, kami mendengarkan teriakan beberapa orang dan diiikuti lampu disko dan musik jedag jedug. Jantung saya mulai berdetak kencang. Saya sedih mengapa banyak orang melampiaskan rasa jenuhnya pada hal-hal seperti itu. Saya bayangkan sekarang saja (2012) orang sudah sedemikian, apalagi nanti ketika 2045, anak saya tumbuh menjadi orang dewasa, bekerja, mau seperti apa huru hara dan hura huranya?

Itulah yang kemudian menyadarkan saya, bahwa tidak ada satupun yang dapat mengikat anak saya kecuali ia memiliki pemahaman yang benar tentang Allahnya. Dan itu semua tidak dapat tumbuh sendiri, perlu saya sebagai orang tua yang membimbing dan menjadi contoh bagaimana iman saya bertumbuh dan dapat pula bertumbuh pada anak saya. Saya berharap dapat memberikan investasi yang tidak dapat dibayar dengan apapun dimasa yang akan datangImage.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s