Kekerasan Verbal Terhadap Anak

Anak menjadi sorotan masyarakat Indonesia sejak 1998. Masyarakat semakin menyadari berharganya masa anak-anak ketika menyadari setiap potensi manusia terbentuk sejak masa kanak-kanak. Potensi tersebut menyeluruh baik potensi positif maupun potensi negatif. Potensi positif merupakan potensi (talenta atau karunia) anak sehingga mampu mengembangkan diri anak seoptimal mungkin sehingga menjadi manusia yang utuh dan mandiri. Sedangkan potensi negatif merupakan kebalikan dari potensi positif dan setiap anak memiliki potensi untuk tidak berkembang negatif pula. Beberapa faktor dapat menjadi penyebab keberhasilan dan kegagalan anak berkembang optimal positif, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dari segi internal, anak memiliki minat, bakat, keterbatasan pengalaman, fisik dan kemampuan pada setiap aspek perkembangan anak. Dari segi eksternal, faktor tersebut adalah rangsangan yang diberikan orang terdekat di sekitar anak, orang terdekat itu seperti orang tua, pengasuh, kakak adik, orang dewasa yang ada disekitar anak. Rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan positif dapat pula rangsangan negatif. Peran faktor eksternal menjadi bagian penting dalam mendukung keterbatasan faktor internal pada diri anak.

Contohnya, dalam tahap perkembangan emosional anak (Erickson) usia 0-1 tahun, anak mulai belajar untuk percaya dan tidak percaya. Anak akan merasa nyaman dan yakin dengan lingkungannya jika pengalaman interaksinya dengan lingkungan juga memberikan kenyamanan. Namun sebaliknya, anak akan merasa tidak nyaman dan bahkan akan mulai tidak mempercayai lingkungannya jika anak memperoleh pengalaman yang tidak menyenangkan. Ini menunjukkan bahwa setiap anak dari dalam dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi dengan orang lain (potensi positif), namun perlu didukung oleh lingkungan (ekstrinsik) yang menguatkan anak untuk memiliki kemampuan intrapersonal. Lingkungan perlu memberikan kenyamanan sehingga anak dapat berkembang dengan potensi positif. Sebaliknya anak akan berkembang negatif jika lingkungan memberikan rangsangan negatif.

Anak Indonesia sudah mulai dapat bernafas lega ketika komisi perlindungan anak mulai terbentuk pada tahun 2002. Komisi ini kemudian mulai menampung dan melakukan pendataan masalah-masalah yang terjadi pada anak. Anak Indonesia memiliki perlindungan hukum ketika UU no 23 tahun 2002 mulai dikeluarkan. Kekerasan pada anak yang terjadi mulai menjadi sorotan publik. Berkaitan dengan rangsangan negatif dari faktor internal diatas, kekerasan terhadap anak termasuk didalamnya. Jika kita membicarakan tentang kekerasan mungkin yang ada dalam benak kita adalah bentuk kekerasan fisik yang dapat dilihat dengan kasat mata. Kasus Ari Anggara, merupakan salah satu bentuk kekerasan fisik yang dilakukan orang dewasa terhadap anak. Mungkin kita menyadari bahwa kasus kekerasan fisik yang paling banyak disoroti karena bentuk kekerasan ini meninggalkan barang bukti pada bagian fisik anak sehingga lebih mudah untuk melakukan tindakan hukum bagi para pelaku. Namun jika kekerasan yang dilakukan dalam bentuk emosional, masih sulit untuk melakukan tindakan hukum. Padahal bentuk kekerasan yang paling permanent dan berdampak pada anak secara psikologi adalah bentuk kekerasan emosional.

Kekerasan emosional adalah tingkah laku, sikap dan tindakan menelantarkan anak yang berdampak dan membahayakan kesehatan mental anak dan perkembangan sosial anak. Kekerasan emosional ini sering disebut juga sebagai kekerasan verbal, kekerasan mental dan kekerasan psikologikal. Contoh kekerasan emosional yang sering dilakukan terhadap anak adalah sebagai berikut;

§ Tindakan intimidasi, seperti; berteriak, menjerit, mengancam, menggeretak anak.

§ Tindakan mengecilkan atau mempermalukan anak, seperti; merendahkan anak, mencela nama, membuat perbedaan negatif antar anak, mengatakan bahwa anak ”tidak baik, tidak berharga, jelek atau sesuatu yang didapat dari kesalahan”.

§ Tidak sayang dan dingin, seperti; menunjukkan sedikit atau sama sekali tidak rasa sayang kepada anak (seperti pelukan) atau kata-kata sayang (pujian, kata ”aku sayang kamu”, dll).

§ Kebiasaan mencela anak, seperti; mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kesalahan anak.

§ Tidak mengindahkan atau menolak anak, seperti; tidak memperhatikan anak, memberi respon yang dingin, tidak peduli dengan anak.

§ Hukuman ekstrim, seperti; mengurung anak dalam kamar mandi atau kamar gelap, mengikat anak di kursi untuk waktu yang lama atau meneror anak (menakuti anak).

§ Mengekspos kekerasan, seperti; menunjukkan tindakan kekerasan pada anak, termasuk didalamnya kekerasan fisik yang dilakukan orang lain.

§ Mengekplotasi anak, seperti; memanfaatkan anak untuk tujuan tertentu, termasuk didalamnya memperkerjakan anak dibawah umur.

§ Penculikan anak, seperti: trauma dari membawa lari anak, termasuk didalamnya penculikan yang dilakukan oleh orang tua sendiri, dan beberapa kekerasan lainnya.

Kekerasan emosional berdampak lebih panjang dibandingkan kekerasan fisik, kekerasan seksual dan bentuk kekerasan penelataran terhadap anak. Biasanya kekerasan emosional justru dilakukan tanpa disadari dan pelakunya adalah orang terdekat, seperti orang tua, kakak atau adik dalam keluarga, pengasuh, guru, pelatih dan teman dalam satu kelompok yang lebih berkuasa. Bentuk kekerasan emosional dalam bentuk verbal seperti mengatakan anak bodoh, tidak berguna, dan kata-kata yang menyinggung anak dan menyakiti hati anak. Memanggil anak dengan panggilan yang melecehkan anak juga termasuk didalamnya.

Jika kita melihat kekerasan verbal yang ada dalam keluarga. Cara orang tua melakukan bentuk disiplin kepada anak sering kali menggunakan kata-kata tajam dan merendahkan anak. Kekerasan verbal yang dilakukan oleh kakak dan adik dalam keluarga juga sering terjadi ketika anak bertengkar mulut. Di lingkungan sekolah juga demikian, anak yang tidak mampu menjawab pertanyaan dengan benar, seringkali mendapat perkataan yang merendahkan dari guru. Sepintas mungkin tidak ada yang dirugikan ketika kita mengatakan sesuatu yang kasar kepada anak. Anak lupa dengan kata-kata tersebut dan mulai memaafkan. Namun sebenarnya tidak, kata-kata kasar dan merendahkan anak kemudian menumpuk dalam diri anak dan melebelkan anak seperti apa yang dikatakan orang dewasa terhadap dirinya. Efek dari timbunan sampah psikis tersebut kemudian membentuk karakter anak dan anak tidak mampu berkembang dengan optimal pada keunikannya masing-masing.

Pasal 13 dan 69 UU no 23 tahun 2002 mengatakan bahwa ada perlindungan hukum bagi anak terhadap kekerasan. Pasal 78 dan 80 juga mengatakan bahwa ada sanksi hukum bagi para pelaku tindak kekerasan pada anak, termasuk didalamnya kekerasan verbal. Jika demikian seharusnya banyak orang tua dan guru yang ada di hotel rodeo, sebagai bentuk realisasi dari kekuatan hukum tersebut. Pada kenyataanya tidak, kekerasan emosional yang didalamnya termasuk kekerasan verbal masih sering terjadi dan seharusnya orang tua, pendidik dan semua orang yang ada dalam lingkungan terdekat anak menyadari bahwa bukan hukum yang mampu menghentikan melakukan tindakan kekerasan verbal tapi lebih pada sebuah tanggung jawab untuk membentuk anak sehingga anak tumbuh dan berkembang tanpa ada sampah psikis akibat tindakan kekerasan tersebut. Semoga 🙂

3 responses to “Kekerasan Verbal Terhadap Anak

  1. ______________________________

  2. kak lalu bagaimana untuk ‘move on’ dari situ? bagaimana caranya agar kita bisa bangkit setelah mengalami kekerasan emosional? bagaimana agar kita bisa menumbuhkan rasa percaya diri itu lagi?

    • marthachristianti

      Belajar untuk mengampuni orang yang melakukan kekerasan tersebut dan doakan agar perlakuan tersebut tidak terjadi lagi.Lalu cobalah untuk mengatakan ketidaksukaan mb Rasti atas sikap yang demikian dengan tegas dan sabar pada orang yang sering melakukan kekerasan tersebut. Setiap orang dilahirkan Tuhan dalam bentuk gambaran yang paling sempurna. Dia membentuk kita dengan maksud yang mulia pula. Untuk itu, jangan terpengaruh dengan ucapan sia-sia yang bermaksud merusak gambar diri (konsep diri) kita. Mulailah mencari dan menggali kelebihan-kelebihan yang ada pada diri sendiri karena pasti itu semua ada tujuannya. Bergaullah dengan orang-orang yang positif dan patut diteladani namun yang rendah hati. Semangat ya…kamu pasti bisa :)Good Luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s