Karakteristik Perkembangan Kognitif, Afektif dan Psikomotor

Karakteristik Perkembangan Kognitif, Afektif dan Psikomotor

Oleh. Bayu Nugraha, S. Pd
(Mahasiswa Pascasarjana UNJ Pendidikan Olahraga)

Kognitif

Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006).

Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif ke dalam empat periode, yaitu:

1. 0-2 tahun disebut sebagai periode kepandaian sensori-motorik (sesorimotorik)

Periode ini terbagi atas 6 tahapan, antara lain:

Tahap 1. (lahir-1 bulan) penggunaan refleks-refleks

Anak membangun (mengkonstruk) skema-skema (skema adalah struktur tindakan bayi) lewat aktivitas anak sendiri. Skema pertama dipengaruhi oleh refleks bawaan. Adapun contoh refleks bawaan yang sangat jelas pada bayi yaitu refleks untuk menghisap, bayi otomatis akan menghisap kapan pun bibir mereka disentuh. Anisiasi, bayi mencari puting susu ibu sendiri ketika baru lahir. Meskipun demikian gerak refleks tersebut memiliki kepasifan tertentu sehingga perlu distimulasi. Namun sekali skema terbentuk maka kita juga memiliki kebutuhan untuk membuatnya aktif. Contoh bayi akan terus menerus melakukan gerakan refleks menghisap walaupun tidak ada yang memicu gerak refleks tersebut. Tidak hanya gerak refleks menghisap putting susu, tetapi  juga menghisap bantal, pakaian, selimut, jari tangan, dsb. Bayi mengasimilasi (memasukkan sesuatu) semua jenis objek menjadi skema menghisap. Bayi belajar untuk mengorganisasikan gerakan-gerakan tubuh agar proses perawatan menjadi lebih lembut, cepat, dan efisien. Contohnya, bayi belajar menyesuaikan gerakan kepala dan bibir untuk menemukan putting susu. Ciri ini disebut dengan permulaan akomodasi (membuat perubahan dalam struktur kita). Ciri lain adalah bayi tidak memiliki konsepsi objek apapun di luar dirinya. Misalnya, jika seseorang/objek meninggalkan wilayah pandangnya, maka bayi tidak berusaha mencari, bayi akan mengamati yang lain yang ada dalam wilayah pandangnya. Bagi bayi, yang diluar pandangnya berarti di luar pikirannya.

Tahap 2. (1-4 bulan) reaksi-reaksi sirkuler primer

Ciri tahap ini sama dengan tahap pertama yaitu bayi tidak memiliki konsepsi objek apapun diluar dirinya. Namun pada tahap ini pula bayi menghadapi suatu pengalaman baru dan berusaha untuk mengulanginya. Misalnya, tangan bayi yang secara tidak sengaja menyentuh mulutnya, ketika tangan itu jatuh, bayi berusaha untuk menangkap tangannya agar dapat melakukan kegiatan yang sama sebelumnya. Walaupun kadang anak merasa kesulitan, tangan memukul wajah, tangan berputar agar menyentuh mulut, bayi mengejar tangannya namun tidak dapat karena seluruh tubuhnya bergerak termasuk kaki dan tangan kearah yang sama. Bayi pada tahap ini belajar untuk mengorganisasikan dua gerakan tubuh yang sebelumnya terpisah. Misalnya bayi mengkoordinasikan pengamatan dan gerakan tangan, anak perempuan yang berulang-ulang meletakkan tangan pada wajah dan menatapnya. Bayi berusaha mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang terpisah hanya setelah mengalami banyak kegagalan. Tahapan ini melibatkan koordinasi bagian-bagian tubuh bayi sendiri.

Tahap 3. (4-10 bulan) reaksi-reaksi sirkuler sekunder

Tahap ini terjadi ketika bayi menemukan dan menghasilkan kembali peristiwa menarik di luar dirinya. Contoh, bayi yang berusaha untuk menggapai mainan gantung yang ada diatasnya. Bayi akan berusaha untuk menggerakkan mainan tersebut sampai bergoyang secara berulang-ulang. Jika telah berhasil maka bayi akan terus mengulanginya kegiatan tersebut dan sering tertawa kecil jika mainan tersebut bergoyang. Pada masa ini bayi tengah menikmati kekuatannya sendiri yaitu kemampuan untuk membuat suatu peristiwa terjadi berulang-ulang, membuat pemandangan yang menarik bertahan selamanya. Anak menunjukkan satu tindakan tunggal untuk mencapai sebuah hasil. Tahapan ini ditandai dengan ketertarikan anak akan dunia eksternal. Bayi mencapai pengertian yang lebih baik tentang permanensi hal-hal eksternal. Misalnya, jika benda dijatuhkan kebawah, bayi berusaha untuk melihat ketempat dimana benda tersebut jatuh. Walaupun bayi pada tahap ini dapat menemukan objek-objek yang tersembunyi sebagian namun ia tidak bisa menemukan objek yang disembunyikan seluruhnya oleh orang lain.

Tahap 4. (10-12 bulan) koordinasi skema-skema sekunder

Pada tahap ini anak belajar untuk mengkordinasikan dua skema terpisah demi mendapatkan hasil. Pencapaian baru ini terlihat ketika bayi berhadapan dengan rintangan-rintangan. Misalnya, bayi yang ingin memeluk mainan, namun ada penghalang diantara mainan tersebut sehingga tidak dapat dipeluk. Bayi akan berusaha untuk mendapatkan mainan dengan berbagai cara. Pada akhirnya bayi dapat memeluk mainan ketika bayi mengibaskan rintangan tersebut. mengibaskan rintangan adalah satu skema, memeluk mainan adalah bentuk skema kedua. Tahapan ini juga ditandai dengan pengertian sejati permanensi objek. Pada tahapan ini bayi dapat menemukan objek-objek yang tersembunyi seluruhnya, namun belum bisa mengikuti pengacakan (pergerakan dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian lain). Misalnya, ketika objek disembunyikan di tempat A, anak dapat menemukan objek tersebut, namun jika objek tersebut disembunyikan di tempat B, anak tetap mencarinya di tempat A.

Tahap 5. (12-18 bulan) reaksi-reaksi sirkuler tersier

Pada tahap ini anak bereksperimen dengan tindakan-tindakan yang berbeda-beda untuk mengamati hasil yang berbeda-beda. Contohnya, seorang anak tertarik dengan meja baru yang dibeli ayahnya. Anak tersebut memukul meja dengan telapak tangannya beberapa kali, kadang keras, kadang lembut. Ini terus dilakukan karena anak mendengarkan perbedaan bunyi yang dihasilkan oleh tindakannya itu. Anak-anak sesungguhnya belajar dari diri mereka sendiri, tanpa perlu diajari orang dewasa. Anak mengembangkan skema semata-mata karena keingintahuan instrinsik tentang dunia. Anak menjadi ilmuwan kecil, membuat variasi tindakan dan mengamati hasil-hasilnya. Semua penemuan itu terjadi lewat tindakan-tindakan fisik. Tahap ini pula menunjukkan anak bisa mengikuti serangkaian pemindahan, namun selama mereka melihat kita melakukannya. Misalnya, anak dapat menemukan bola yang disembunyikan di tempat A dan B selama anak melihat proses pemindahan tersebut.

Tahap 6. (18 bulan-2 tahun) permulaan berpikir

Pada tahap ini anak mulai memikirkan situasi secara lebih internal, sebelum bertindak.Jika pada tahap 5 anak mencoba memecahkan masalah dengan coba-coba (trial and error) maka pada tahap ini anak dapat memikirkan sejenak cara untuk menyelesaikan masalah. Contoh, anak yang ingin mengeluarkan bola pada kotak mainan. Pada awalnya anak mencoba untuk membuka dengan berbagai cara, karena tidak berhasil, maka anak diam sejenak untuk mengamati kotak tersebut. Anak melihat ada sedikit celah pada kotak, kemudian tangannya masuk melalui celah tersebut dan ia memperoleh bola yang diinginkan. Kemajuan pada tahap ini dilihat juga sebagai upaya untuk berimitasi terhadap model-model yang sudah ada dan imitasi yang tertunda yaitu model yang tidak hadir lagi. Misalnya, ketika ani melihat seorang anak laki-laki yang berteriak dengan keras sambil membuang kotak mainannya, kemudian mendorong kotak tersebut dan menendangkan kaki ketanah, tingkah laku ini sangat mengagetkan ani, karena belum pernah dilihat sebelumnya. Keesokan harinya ani juga melakukan hal yang sama terhadap kotak mainannya dengan keterbatasan kosa kata untuk merepresentasikan tindakan anak tersebut. Kemudian ani menggunakan beberapa bentuk representasi motorik dengan gerakan-gerakan otot ringkas seperti apa yang dilihatnya. Tahapan ini ditunjukkan pula pada kemampuan anak dapat mengikuti serangkaian pemindahan yang tidak tampak. Misalnya, seorang anak dapat menemukan bola yang menggelinding dibawah kursi dengan cara memutari kursi tersebut, dan mengambilnya.

Secara keseluruhan awal periode ini, anak tidak memiliki pengertian tentang objek-objek yang independen dari pandangannya maka pada akhir periode ini anak sudah mampu memandang objek terpisah-pisah dan permanen. Anak sudah mampu mengembangkan pengertian yang jelas tentang dirinya sebagai makluk yang independen. Anak telah mengembangkan tindakan-tindakan yang efisien dan terorganisasikan dengan baik untuk menghadapi lingkungannya.

2. 2-7 tahun disebut sebagai periode pikiran operasional (praoperasional konkret)

Ciri periode ini yaitu:

  • Pikiran anak berkembang cepat ke sebuah tatanan baru, yaitu simbol-simbol.
  • Pikiran anak pada dasarnya tidak sistematis dan tidak logis.
  • Anak-anak mulai menggunakan simbol-simbol ketika menggunakan sebuah objek atau tindakan untuk merepresentasikan sesuatu yang tidak hadir. Simbol-simbol pertama bersifat motorik, bukan linguistik. Misalnya, ketika anak berusaha membuka kotak mainan, anak menggerak-gerakkan otot mulutnya untuk merepresentasikan sebuah tindakan yang belum dapat dilakukan.
  • Bahasa mulai berkembang pada tahapan ini. Anak menggunakan kata-kata untuk merekonstruksi peristiwa yang tidak hadir lagi, sesuatu yang dari masa lalunya. Kata-kata tidak digunakan untuk sebagai objek yang benar, melainkan sebagai pra-konsepsi. Misalnya, seorang anak menceritakan kepada ayahnya, “mama pergi, burung terbang, ade pergi”.
  • Penalaran anak transduktif (berpindah dari hal-hal khusus ke hal khusus lainnya) terlihat dari ketidakmampuan anak untuk mengkategorikan secara umum. Misalnya, aku belum minum susu, berarti ini belum siang, dan belum waktunya untuk tidur siang. Padahal siang hari tidak hanya ditandai dengan minum susu, namun banyak peristiwa lain.
  • Anak-anak gagal untuk mengkonversi. anak hanya memusatkan pada satu dimensi. Misalnya, anak diminta untuk memilih gelas yang paling banyak berisi air pada dua tabung yang berbeda namun memiliki jumlah volume yang sama. Anak cenderung untuk memilih gelas yang lebih tinggi atau yang lebih lebar. Pada dasarnya anak sanggup mengambil satu langkah maju menuju pengkonversian namun tidak bisa mencapainya.
  • Anak sebenarnya telah memahami adanya dua dimensi perceptual (regulasi intuitif), namun belum bisa memikirkan keberadaan keduanya secara serempak sehingga baginya perubahan pada satu dimensi membatalkan perubahan pada dimensi lainnya. Misalnya, ketika anak ditanya volume yang lebih banyak dari dua gelas yang berbeda namun berisi sama. Pada awalnya anak menjawab gelas yang tinggi kemudian ia mengganti jawabannya dengan gelas yang lebih rendah, dan kemudian anak bingung sendiri untuk menentukan mana yang lebih banyak.
  • Anak belum mampu mengklasifikasi. Misalnya ada 10 kancing dari kayu. 8 kancing berwarna coklat dan 2 kancing berwarna putih. Ketika anak ditanya “lebih banyak mana, kancing berwarna coklat atau seluruh kancing kayu yang ada?” Anak menjawab kancing coklat, tanpa menyadari bahwa kancing coklat dan kancing putih adalah bagian dalam kancing kayu.
  • Anak berpikir egosentrisme, menganggap segala sesuatu berasal dari satu titik pandang saja. Anak tidak mampu membedakan perspektifnya sendiri dari perspektif orang lain.
  • Anak belum memahami arti kemenangan. Anak menganggap kalau aku menang, kamu menang juga.
  • Anak beranggapan bahwa benda tidak hidup, adalah benda hidup juga (keberjiwaan dunia = world animistic). Misalnya, ketika anak ditanya “apakah matahari hidup?” anak akan menjawab ya karena ia memberikan cahaya. Dia hidup karena memberikan cahaya, dan tidak hidup ketika tidak mampu memberikan cahaya”.
  • Anak beranggapan bahwa mimpi itu nyata dan dapat dilihat oleh orang lain. Mimpi itu dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari luar (dari malam atau langit, lewat jendela dari cahaya-cahaya di luar).
  • Anak memiliki kepatuhan yang membuta pada aturan-aturan yang dipaksakan orang dewasa (heteronomy moral).

3. 7-11 tahun disebut sebagai periode operasi-operasi berpikir konkret (operasional  konkret)

Ciri periode ini, yaitu:

  • Anak sudah memahami pengkonversian zat cair. Anak mengkonversi menggunakan tiga argument yaitu argument identitas, kompensatif, dan inversi. Misalnya, ketika anak mampu menjawab dengan benar cairan yang lebih banyak. Anak menjawab “kita tidak menambahkan atau mengurangi apapun, jadi mestinya jumlah cairan ini tetap sama” ini disebut sebagai argument identitas. Jika jawaban anak “gelas ini memang lebih tinggi dan yang lain lebih lebar, meskipun begitu jumlah cairannya tetap sama” ini disebut sebagai argument kompensatif. Jika jawaban anak “isinya masih sama karena kita bisa menuang kembali cairan itu ke tempat yang semula” ini disebut dengan argument inversi.  Rangkaian argument ini merupakan rangkaian tindakan mental yang dapat dibalikkan. Anak memahami bukan hanya perubahan yang terlihat oleh mata, namun juga perubahan kompensatoris. Anak menyadari perbedaan perspektif masing-masing orang. Anak sudah mampu bekerja sama. Anak berusaha mengikuti peraturan-peraturan permainan dan berusaha menang mengikuti peraturan tersebut.
  • Berangsur-angsur anak meninggalkan label hidup pada objek-objek yang bergerak, dan melabelkannya pada tumbuhan dan hewan.
  • Anak menyadari kalau mimpi bukan hanya tidak nyata, namun juga tidak terlihat dari luar, berasal dari dalam.
  • Anak mampu memahami dua aspek suatu persoalan secara serempak membentuk landasan bagi pemikiran sosial sekaligus pemikiran ilmiah. Anak mampu berpikir sistematis berdasarkan tindakan mentalnya (mengacu pada objek-objek yang bisa diindera dan aktivitas riil).
  • Dalam interaksi sosial anak memahami bukan hanya apa yang mereka katakana tetapi juga kebutuhan pendengarnya.

4. 11 tahun sampai dewasa disebut sebagai periode operasi berpikir formal (operasional formal)

Pada tahapan ini remaja mulai menata pikiran hanya di dalam pikiran mereka sendiri. Kemampuan untuk menalar terkait dengan kemungkinan-kemungkinan hipotesis. Bekerja dengan sistematis untuk mencoba semua kemungkinan. Beberapa orang ada yang mencoba beragam kombinasi/percobaan namun kemudian mencoba untuk menulis dahulu kemungkinan-kemunginan yang ada sebelum bertindak lebih jauh. Esensi dari penalaran ini adalah pemikiran sistematis tentang hipotesis-hipotesis. Pikiran mencapai derajat kesetimbangan tertinggi. Mulai memikirkan masalah-masalah yang lebih jauh jangkauannya. Kekuatan baru kognitif bisa mengarah pada idealisme, memegang prinsip-prinsip dan ideal-ideal yang abstrak. Egosentrisme pada tahap ini muncul kembali ketika melekatkan kekuatan tak terbatas pada pikiran mereka sendiri. Mimpi tentang masa depan tanpa mengetesnya pada pikiran yang realistis. Namun kemudian belajar batasan-batasan dan resistensi bagi pikiran-pikiran mereka sendiri. Mereka belajar bahwa konstruksi teoritis dan mimpi (visi utopian = tujuan tertentu yang sulit untuk diwujudkan) akan bernilai jika terkait dengan bagaimana keduanya beroperasi dalam realitas.

Afektif

Afektif menurut kamus besar bahasa indoensia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta; mempengaruhi keadaan perasaan dan emosi; mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan (tentang tata bahasa atau makna).

Pentahapan psikososial manusia menurut Erikson;

1. Tahap oral (0-1 tahun)

Pada tahap ini zona utamanya adalah mulut dan aktivitas inderawi. Tahapan ini secara umum disebut sebagai tahap kepercayaan versus ketidakpercayaan mendasar. Bayi berusaha untuk menemukan sejumlah konsistensi, prediksi dan realibilitas dalam tindakan pengasuhan. Jika orang tua cukup konsisten dan dapat diandalkan maka bayi mulai mengembangkan kepercayaan mendasar kepada orang tua. Sebaliknya, jika orang tua tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dipercaya sehingga tidak akan pernah hadir jika dibutuhkan maka yang berkembang adalah rasa tidak percaya. Bayi yang bisa menyeimbangkan rasa percaya dan tidak percaya ini dengan berhasil maka akan muncul harapan. Harapan sebagai sebuah ekspektasi yang sekalipun terdapat rasa frustasi, marah atau kecewa, hal-hal yang baik tetap akan terjadi dimasa depan. Harapan akan memampukan anak bergerak maju ke dunia luar, menyambut tantangan baru.

2. Tahap anal (1-3 tahun)

Pada tahap ini anak memperoleh kontrol atas otot-otot perutnya sehingga dapat menahan atau menghilangkan dorongan untuk buang hajat sesuai kehendak mereka. Bentuk dasar tahapan ini adalah menahan atau melepaskan. Tahapan umum pada tahapan ini adalah otonomu versus rasa malu dan ragu-ragu. Anak berusaha melatih kemampuan memilih, melatih kehendak mereka (otonomi). Penekanan yang kuat terhadap kata “tidak”, anak menolak semua kontrol eksternal atas dirinya. Bagi orang tua anak tidak boleh mengatakan tidak, karena mereka hidup dalam masyarakat dan harus menghargai keinginan orang lain. Otonomi muncul dari dalam sebagai sebuah pendewasaan biologis yang mengembangkan kemampuan anak untuk melakukan segala hal dengan caranya sendiri. Sedangkan rasa malu dan ragu-ragu muncul dari kesadaran akan ekspektasi dan tekanan sosial, kesadaran bahwa dirinya tidak begitu berkuasa sehingga orang tua dapat mengontrol dan bertindak lebih baik dari dia. Bagi anak yang mampu menyeimbangkan rasio otonomi dan rasa malu dan ragu-ragu maka akan muncul kehendak yang kokoh. Kehendak sebagai  kebulatan tekad yang tidak bisa dipatahkan untuk melatih pilihan bebas dan pengendalian diri. Kemampuan pengendalian diri yang percaya bahwa pernting bagi anak untuk belajar mengontrol impuls mereka sendiri dan menentukan apa yang tidak pantas dilakukan. Jadi anak yang harus berinisiatif demikian bukan kekuatan eksternal.

3. Tahap falik (3-6 tahun)

Pada tahap ini anak memfokuskan ketertarikannya pada alat kelaminnya dan menjadi sangat ingin tahu organ kelaminnya. Anak juga sudah mulai membayangkan dirinya dalam peran orang dewasa, bahkan berani bersaing dengan salah satu orang tuanya untuk memperoleh kasih sayang. Bentuk utama tahap ini adalah intrusi yaitu keberanian, keingintahuan dan persaingan dalam diri anak. Tahapan umum dalam tahap ini yaitu inisiatif versus rasa bersalah. Inisiatif yang berarti sama dengan intrusi, berarti pergerakan kedepan. Lewat inisiatif anak membuat rencana, menetapkan tujuan, dan mempunyai semangat untuk mencapainya, yang pada akhirnya membentuk ambisi tertentu. Namun dalam perjalannya anak mendapati bahwa ambisi tersebut melanggar aturan sosial yang ada dalam masyarakat sehingga rasa bersalah itu muncul pengendalian diri yang baru dimana anak berusaha untuk mencari cara menghubungkan ambisi dengan tujuan sosial. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memperlunak otoritas dan memperbolehkan anak berpartisipasi untuk menghadapi kehidupan. Lewat cara inilah maka penyimbangan terhadap inisiatif dan rasa bersalah dapat membentuk “tujuan” yaitu keberanian untuk memimpikan dan mengejar tujuan yang bernilai.

4. Tahap latensi (6-11 tahun)

Pada tahap ini anak belajar untuk menguasai kemampuan kognitif dan sosial yang penting. Tahap umum dalam tahapan ini adalah industry versus inferioritas. Anak melupakan harapan dan keingian masa lalu, yang seringkali merupakan harapan dan keinginan keluarganya, dan sangat ingin mempelajari kemampuan budaya masyarakat (industri). Anak belajar untuk bekerja sama dan bermain bersama teman sebayanya. Keinginan ini kemudian dibatasi dengan perasaan berlebih-lebihan karena ketidaktepatan dan inferioritas. Inferior yang terlalu mendalam akan berakar dan menyebabkan anak tidak memperoleh talentanya. Misalnya, olok-olok dan rasa sakit hati pada masa sekolah akan membentuk anak untuk tidak berhasil memperoleh dirinya dengan penuh. Guru dapat menyelesaikan konflik ini dengan membentuk rasa percaya terhadap diri fan dihargai komunitas. Keberhasilan menyeimbangkan industry dan inferioritas menghasilkan kompetensi, yaitu sebuah latihan intelegensia dan kemampuan secara bebas dalam menyelesaikan tugas, tanpa diganggu perasaan inferioritas yang berlebihan.

5. Tahap genital (11 tahun – dewasa)

Pada tahap ini remaja membangun pembahaman baru mengenai dirinya, perasaan tentang dirinya dan apa tempatnya di tatanan sosial yang lebih besar. Tahap utama dalam pentahapan ini adalah identitas versus kebingungan peran. Remaja mencari identitas dirinya, merasa bahwa implus-implus tidak dapat menyatu dengan dirinya, dan pertumbuhan fisik yang sangat cepat telah menciptakan rasa kebingungan identitas. Untuk alasan inilah maka banyak remaja yang menghabiskan banyak waktunya didepan kaca dan memperhatikan penampilannya. Upaya ini dilakukan untuk menghilangkan ketakutannya tidak terlihat baik atau tidak memenuhi harapan orang lain. Ketidakpastian remaja akan dirinya, diidentifikasi dengan masuknya remaja dalam geng tertentu yang dianggap dapat menjelaskan dirinya yang sebenarnya. Remaja membentu identitasnya dengan pengidentifikasian, yang secara tidak sadar dilihat dari identifikasi diri yang tampak pada kita sehingga menjadikan diri kita seperti mereka. Oleh kerena itu untuk dapat menemukan diri sendiri seharusnya remaja melakukan penarikan diri (moratorium psikososial).  Pencarian diri tersebut kemudian membawa remaja pada komitmen permanen sehingga keberhasilan pada tahap ini membentuk kesetiaan yaitu sebuah kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang sudah dinanti sejak dulu.

Psikomotor

Psikomotor secara harfiah berarti sesuatu yang berkenaan dengan gerak fisik yang berkaitan dengan proses mental (kamus besar bahasa Indonesia).

Adapun tahapan perkembangan motorik adalah sebagai berikut;

1. Tahap gerakan refleks (0- 1 tahun)

Bentuk gerakan pada tahapan ini tidak direncanakan, merupakan dasar dari perkembangan motorik. Melalui gerak refleks bayi memperoleh informasi tentang lingkungannya, seperti reaksi terhadap sentuhan, cahaya, suara. Gerakan ini berkaitan dengan meningkatnya pengalaman anak untuk mengenal dunia pada bulan-bulan pertama mengenal kehidupan setelah kelahiran. Oleh karena itu kegiatan bermain sangat penting untuk menolong anak belajar teng dirinya dan dunia luar. Tahapan gerak refleks terbagi atas dua bentuk yaitu;

1. Refleks sederhana (0-4 bulan)

Gerak ini dikelompokkan sebagai kumpulan informasi, mencari makanan, dan respon melindungi. Mengumpulkan informasi membutuhkan rangsangan untuk berkembang. Kemampuan mencari makanan dan respon melindungi merupakan bentuk alami yang dimiliki manusia. contoh geak refleks sederhana seperti, bertumbuh dan menghisap.

2. Refleks tubuh (4 bulan – 1 tahun)

Refleks ini berkaitan dengan saraf motorik untuk keseimbangan, gerakan berpindah (lokomotor) dan manipulative (menjalankan) yang kemudian akan terkontrol. Refleks langkah dasar dan merangkak terkait dengan gerakan dasar untuk berjalan.

Perkembangan motorik pada tahap refleks terdiri pula dalam dua tingkatan yang saling bertindihan, yaitu tingkat encoding (mengumpulkan) informasi dan decoding (memproses) informasi. Pembagian ini pada dasarnya sama dengan gerak refleks sederhana dan refleks tubuh.

2. Tahap gerakan permulaan (lahir-2 tahun)

Gerak permulaan ini merupakan bentuk gerak sukarela yang pertama. Dimulai dari lahir sampai usia 2 tahun. Gerakan permulaan membutuhkan kematangan dan berkembang berurutan. Urutan ini terbentuk alami. Rata-rata kemampuan ini didapat dari anak ke anak, meskipun secara biologis, dan lingkungan sangat berperan. Gerakan ini ada sebagai kemampuan untuk bertahan hidup dan merupakan gerakan yang mempersiapkan anak untuk memasuki tahap gerakan dasar. Beberapa gerakan keseimbangan seperti mengontrol kepala, leher, dan otot badan. Gerakan manipulative seperti menggapai, menggenggam, dan melepaskan; dan gerakan lokomotor seperti, merayap, merangkak, dan berjalan. Gerakan ini terbagi atas dua tahapan, yaitu;

1. Tahap refleks tertahan (lahir-1 tahun)

Tahap ini dimulai dari lahir. Peningkatan gerakan bayi ini dipengaruhi oleh perkembangan cortex. Pada tahap ini gerakan sederhana dan gerakan tubuh digantikan dengan gerakan sukarela, namun berbeda dan terpadu karena saraf motorik bayi masih dalam taraf gerakan permulaan. Jika bayi ingin menggapai benda, mereka akan melakukan gerakan menyeluruh yang dilakukan tangan, lengan, bahu, dan ketika menggenggam. Proses bergeraknya tangan dengan penglihatan terhadap objek, meskipun sukarela, namun terkontrol.

2. Tahap prekontrol (1 – 2 tahun)

Usia 1 tahun, anak mulai lebih baik mengontrol gerakannya. Proses ini menggabungkan antara sensori dan sistem motorik dan memadukan persepsi dan informasi motorik kedalam kegiatan yang lebih bermakna. Pada tahap ini, anak belajar untuk dapat menyokong equilibriumnya, untuk memanipulasi objek, dan untuk melakukan gerakan lokomotor melalui lingkungan untuk mengontrol perkembangannya.

3. Tahap gerakan dasar (2-7 tahun)

Gerakan ini muncul ketika anak aktif bereksplorasi dan bereksperimen dengan potensi gerak yang dimilikinya. Tahap ini merupakan tahap menemukan bagaimana menunjukkan berbagai gerak keseimbangan, lokomotor dan manipulative, maupun penggabungan ketiga gerakan tersebut. anak mengembangkan gerakan dasar ini untuk belajar bagaimana merespon kontrol motorik dan kompetensi gerakan dari berbagai rangsangan. Gerakan dasar ini juga digunakan sebagai dasar pengamatan tingkah laku anak. Beberapa kegiatan lokomotor seperti melempar dan menangkap, dan kegiatan keseimbangan seperti berjalan lurus dan keseimbangan berdiri dengan satu kaki merupakan gerakan yang dapat dikembangkan semasa kanak-kanak. Tahap ini terbagi atas 3 tingkat, yaitu;

1. Tingkat permulaan (2-3 tahun)

Tingkatan ini menunjukkan orientasi tujuan pertama anak pada kemampuan permulaan. Gerakan ini dicirikan dengan kesalahan dan kegagalan bagian gerakan secara berurutan, kelihatan membatasi atau berlebihan menggunakan anggota tubuh, tidak mampu mengikuti ritmk dan koordinasi. Gerakan keseimbangan, lokomotor, dan manipulative benar-benar pada tingkat permulaan.

2. Tingkat elementary (4-5 tahun)

Tingkatan ini menunjukkan kontrol yang lebih baik dan gerakan permulaan koordinasi ritmik yang lebih baik pula. Gerak spasial dan temporal lebih meningkat, namun secara umum masih kelihatan membatasi atau berlebihan, meskipun koordinasi lebih baik. Intelegensi dan fungsi fisik anak semakin meningkat melalui proses kematangan.

3. Tingkat mature (6-7 tahun)

Tingkatan ini dicirikan oleh efisiensi secara mekanik, koordinasi dan penampilan yang terkontrol. Keahlian manipulative semakin berkembang dalam mengkoordinasi secara visual dan motorik, seperti menangkap, menendang, bermain voli, dsb).

4. Tahap gerakan keahlian (7-14 tahun)

Tahapan ini merupakan tahap gerakan yang semakin bervariasi dan kompleks, seperti gerakan sehari-hari, rekreaasi dan olahraga baru. Periode ini merupakan tahap dimana keahlian keseimbangan dasar, gerak lokomotor dan manipulative meningkat, berkombinasi, dan terelaborasi dalam berbagai situasi. Misalnya gerakan dasar melompat dan meloncat, dikombinasikan kedalam kegiatan menari atau lompat-jongkok-berjalan dalam mngikuti jejak. Tahapan ini terbagi atas 3 tahap, yaitu;

1. Tahap transisi (7-10 tahun)

Tahap ini indivdu mulai mengkombinasi dan mengunakan kemampuan dasarnya dalam kegiatan olahraga. Misalnya, berjalan mengikuti garis lurus, lompat tali, bermain bola, dll. Keahlian pada tahap ini lebih kompleks dan spesifik.

2. Tahap aplikasi (11-13 tahun)

Pada tahap ini anak memiliki keterbatasn dalam kemampuan kognitif, afektif dan pengalaman, dikombinasikan dengan keaktifan anak secara alami mempengaruhi semua aktivitasnya. Peningkatan kognitif dan pengalaman anak dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk belajar dan peran anak dalam berbagai jenis aktifitas, indivudu dan lingkungan. Keahlian kompleks dibentuk dan digunakan dalam pertandingan, kegiatan memimpin dan memilih olahraga.

3. Tahap lifelong utilisasi (14 tahun sampai dewasa)

Tahapan ini merupakan puncak proses perkembangan motorik dan dicirikan dengan gerakan yang sering dilakukan sehari-hari. Minat, kompetensi, dan pilihan mempengaruhi, selain faktor uang dan waktu, peralatan dan fasilitas, fisik dan mental, bakat, kesempatan, kondisi fisik dan motivasi pribadi.

Daftar pustaka

William Crain. Teori perkembangan konsep dan aplikasi. Pustaka pelajar; 2007, Yogyakarta

Martini Jamaris. Perkembangan dan pengembangan anak usia taman kanak-kanak. Grasindo; 2006, Grasindo

Carol E catron & jan allen. Early childhood curriculum. Prantice hall: 1999, USA

Tim prima pena. Kamus besar bahasa Indonesia. Gitamedia press: Jakarta

S.C Utami Munandar. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah. Grasindo; 1992, Jakarta

Gallahue, David. L, Understanding Motor Development. USA. W.CB. McGraw. Hill. Co Inc. 2006

About these ads

2 responses to “Karakteristik Perkembangan Kognitif, Afektif dan Psikomotor

  1. marthachristianti

    baiklah..sama-sama

  2. Wow, hebaaaatttt.. Makasih informasinya yaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s